Awas, Jangan Gesek Kartu Kredit 2 Kali

Belakangan ini berita tentang kasus kebocoran data nasabah cukup ramai menghiasi berbagai media. Kebocoran ataupun kebobolan data tersebut karena adanya pihak/oknum yang memperjualbelikan data nasabah. Banyak faktor yang memicu terjadinya kebocoran data nasabah, salah satunya adalah penggesekan ganda (double swipe) kartu kredit dan kartu debit di cash register atau mesin kasir. 


Bagaimana sebenarnya aturan main mengenai penggesekan kartu dalam transaksi nontunai ini?. Regulasi mengenai larangan penggesekan ganda kartu nontunai (kartu kredit dan kartu debit) telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia (BI) No. 18/40/PBI/2016 tanggal 8 November 2016, tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran. Ada beberapa poin dan aturan dari peraturan BI tersebut yang perlu diketahui, yaitu: 

BI melarang Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (acquirer/merchant/pedagang) menyalahgunakan data dan informasi nasabah maupun data dan informasi transaksi pembayaran, selain untuk tujuan pemrosesan transaksi pembayaran. Ditegaskan BI bahwa dalam setiap transaksi nontunai, kartu kredit atau debit hanya boleh digesek sekali di mesin EDC (Electronic Data Capture), dan tidak boleh dilakukan penggesekan lainnya, termasuk di mesin kasir atau cash register. 

Untuk melindungi masyarakat dari pencurian data dan informasi kartu. Jika terjadi penggesekan kedua (double swipe) di mesin kasir, maka data yang ada di strip magnetik kartu berpindah ke komputer merchant atau toko. Dan umumnya komputer atau mesin kasir tersebut terkoneksi dengan internet. Seluruh data nasabah berpotensi disalin/dikloning oleh oknum/pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga dapat merugikan nasabah dikemudian hari. 

Data nasabah yang terekam misalnya nomor kartu, card verification value, expired date, hingga service code pada kartu kredit ataupun kartu debit. Pada dasarnya merchant tidak harus menggesek kartu ke mesin kasir atau cash register. Kasir bisa melakukan dengan cara yang aman. Yakni dengan menginput sejumlah angka yang tertera pada kartu. Mungkin dikarenakan adanya antrian panjang, sehingga kasir main gesek lagi saja, supaya cepat. Nasabah berhak menolak apabila kartunya digesek di mesin kasir (cash register). 

Jika kasir bersikukuh tetap menggesek kartu di cash register dengan berbagai alasan, misalnya sudah aturannya demikian atau sesuai prosedur (SOP) atau lain sebagainya, maka nasabah bisa melaporkan ke BI. Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang melanggar akan dikenakan sanksi administratif secara bertahap oleh BI, mulai dari teguran, denda, penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan jasa sistim pembayaran, hingga pencabutan izin sebagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran. 

Bank Indonesia (BI) mengingatkan alat pembayaran transaksi non-tunai tidak boleh digesek melebihi satu kali dan tidak boleh digunakan selain melalui mesin perekam data elektronik (electronic data capture/EDC). Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman pada Selasa 5-9-2017 di Jakarta, mengatakan larangan penggesekan ganda alat bayar non-tunai seperti kartu kredit dan debit, untuk melindungi nasabah dari pencurian data dan informasi kartu. 

“Bank Indonesia melarang penyelenggara jasa sistem pembayaran menyalahgunakan data dan informasi nasabah maupun data dan informasi transaksi pembayaran selain untuk tujuan transaksi pemrosesan pembayaran,” kata Agusman. 

Pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai, kata Agusman, sudah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran. Pada Pasal 34 huruf b, di PBI tercantum larangan pengambilan data melalui mesin kasir di pedagang. Dalam tahapan pemrosesan transaksi pembayaran terdapat pihak “acquirer”. “Acquirer” adalah bank atau lembaga yang bekerja sama dengan pedagang, yang dapat memproses data alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang diterbitkan oleh pihak lain. 

Agusman mengatakan “Acquirer” wajib memastikan kepatuhan pedagang terhadap larangan penggesekan ganda. “Acquirer juga diharapkan mengambil tindakan tegas, antara lain dengan menghentikan kerja sama dengan pedagang yang masih melaksanakan praktik penggesekan ganda,” kata Agusman. Untuk kepentingan rekonsiliasi transaksi pembayaran, pedagang dan “acquirer” diharapkan dapat menggunakan metode lain yang tidak melibatkan penggesekan ganda. 

Agusman menghimbau masyarakat juga berkontribusi menghindari praktik penggesekan ganda dengan senantiasa menjaga kehati-hatian dalam transaksi non-tunai, dan tidak mengizinkan pedagang melakukan penggesekan ganda.  Bank Indonesia berjanji akan menegur langsung lembaga atau bank yang berperan sebagai “acquirer” serta pedagang, jika mereka melakukan atau membiarkan terjadinya gesek ganda alat pembayaran nontunai. 

“Kami akan langsung ke ‘acquirer’ atau ke ‘merchant’ (pedagang) supaya bisa langsung diambil tindakan,” ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung DPR, Jakarta, Selasa, 5-9-2017. Agus juga meminta kepada masyarakat untuk menolak jika pegawai perusahaan dagang (merchant) meminta alat pembayaran seperti kartu kredit dan kartu debit, digesek lebih dari satu kali atau digesek selain di mesin perekam data elektronik (electronic data capture/EDC). 

Jika pegawai “merchant” itu memaksa, Agus meminta masyarakat melaporkan hal itu kepada BI. “Si pemegang kartu harus melihat dan meyakini bahwa kalau sudah dilakukan gesek di EDC, tidak boleh digesek lagi di mesin kasir, karena itu bisa terjadi profil dan data daripada pemegang kartu itu disalim dalam mesin kasir,” ujarnya. Agus menegaskan alat pembayaran seperti kartu kredit dan debit, hanya boleh digesek di mesin EDC, tidak boleh di mesin kasir. “Kalau ada pemaksaan, laporkan sama BI biar kita ambil tindakan tegas,” ujarnya. 

Agus Martowardojo mengatakan pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran. (Antara). Yg sering terjadi merchant/supermarket mll kasirnya melakukan swipe/gesek kartu atm 2x, pertama untuk pembayaran kedua u mengcapture data kartu pembeli ke dlm sistem internal merchant. 

Bank Indonesia menegaskan pelarang keras penggesekan ganda atau double swipe dalam transaksi nontunai. Dalam setiap transaksi, kartu hanya boleh digesek sekali pada mesin electronic data capture (EDC) dan tidak dilakukan penggesekan lainnya, termasuk pada mesin kasir. Pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran. 

Pada Pasal 34 huruf b, Bank Indonesia melarang penyelenggara jasa sistem pembayaran menyalahgunakan data dan informasi nasabah maupun data dan informasi transaksi pembayaran selain untuk tujuan transaksi pemrosesan pembayaran. Tercakup di dalamnya adalah larangan pengambilan data melalui mesin kasir di pedagang. Salah satu pihak dalam pemrosesan transaksi pembayaran adalah acquirer, yaitu bank atau lembaga yang bekerjasama dengan pedagang, yang dapat memproses data alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang diterbitkan oleh pihak lain. Untuk mendukung perlindungan data masyarakat, acquirer wajib memastikan kepatuhan pedagang terhadap larangan penggesekan ganda. 

Acquirer juga diharapkan mengambil tindakan tegas, antara lain dengan menghentikan kerja sama dengan pedagang yang masih melakukan praktik penggesekan ganda. Guna kepentingan rekonsiliasi transaksi pembayaran, pedagang dan acquirer diharapkan dapat menggunakan metode lain yang tidak melibatkan penggesekan ganda. Masyarakat pun dapat berkontribusi menghindari praktik penggesekan ganda dengan senantiasa menjaga kehati-hatian dalam transaksi nontunai, dan tidak mengizinkan pedagang melakukan penggesekan ganda. 

Apabila masyarakat mengetahui atau mengalami praktik penggesekan ganda, masyarakat dapat melaporkan ke Bank Indonesia Contact Center (BICARA) 131,dengan menyebutkan nama pedagang dan nama bank pengelola yang dapat dilihat di stiker mesin EDC. Komplotan peretas mencuri data rahasia sejumlah nasabah kartu ATM bank di Indonesia, kemudian memindahkan data nasabah ke kartu baru dengan fungsi yang sama dengan kartu asli.

Note: Layanan Dana Tunai Pinjaman Cepat Cair Di Daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Seluruh Wilayah Indonesia Proses Cepat Syarat Mudah Non BI Checking. Informasi Lengkap Anda dapat Menghubungi Kami disini.
Disqus Comments